“Senyap” Yang Dituliskan

“Di sini, disaat kau berhenti dan memilih kembali. Maka itu seperti dosa yang tak termaafkan” – Maria Freyna Nataschenka

Senyap, identik dengan operasi intelejen. Tapi tidak dengan “senyap” yang sering dituliskan tuan kampret pada kolom-kolom liarnya dan linimasanya. Beberapa kali tuan kampret menuliskan perihal senyap dalam sejumlah tulisannya. Meskipun aroma metaforsarkastik membalutnya. Kadang secara maknawi banyak yang terdisorientasi dengan kata “senyap” yang sering tuan kampret tuliskan.

Para senyap yang dituliskan adalah orang-orang yang selalu mengundi nyawa disetiap jejak perjuangannya untuk menafkahi keluarga, menyambung mimpi orang-orang terdekat, bahkan menikmati hidup dengan menggunakan mata, telinga, serta kaki yang secara nyata mampu menyatu dengan berbagai wilayah di belahan bumi yang belum tentu semua orang merasakannya. [Surat Rindu Untuk Senyap]

Flux, arc range, tabung oksigen, serta kabel-kabel kurang ajar, dan helm yang berbobot lebih dari lima belas kilogram menjadi sahabat setiap kali para senyap menari-nari dalam dunianya. Ratusan, ribuan dollar per/pekan terkadang menjadi angka sinting untuk mengundi nyawa.

Keadaan alam terkadang tak dapat ditebak, sebaik apapun nilai sertifikasi dan juga jam terbang yang dimiliki kembali lagi pada ketentuan Sang Maha Kuasa. Banyak celotehan indah perihal “senyap” namun duka terkadang tertutupi oleh nilai materi.

Hyperbaric yang menyebalkan, dan gelombang air laut yang terkadang tak bersahabat terkadang banyak merenggut nyawa para senyap bawah air. Meskipun sering menikmati belahan dunia lainnya, namun ketika harus mengundi nyawa dengan resiko isolator yang bermasalah, hydrogen dan oksigen (arc mixtures) yang meledak, titik beku, hingga arus listrik, para senyap merasa mati rasa.

Yah, para senyap bawah air atau commercial diver adalah salah satu pekerjaan di dunia yang memiliki resiko kematian seratus persen. Faktor lokasi, skill dan jam terbang, keadaan alam, dasar pendidikan atau sertifikasi tak semudah dibayangkan jika hanya untuk ditukar dengan nyawa tatkala bertugas.

“Jika Tuhan bilang aku harus duduk mencintai hening. Maka aku akan memohon padaNya, agar aku bisa menari sekali lagi dengan karang”—Tuan Pencerita

Para senyap yang telah memiliki nama terkadang akan sulit untuk menikmati hidup di kota kelahirannya. Bahkan sebagian dari mereka tak pernah kembali ke tanah kelahirannya dan tanpa nama, tanpa raga, hilang bersama luasnya samudera. [Tersenyumlah Senyap]

Berpuluh-puluh meter bahkan menembus seratus lima puluh meter di bawah permukaan, dan terkadang tidak sesuai jika nyawa manusia harus dinilai dengan kisaran ribuan dolar perharinya. Terkadang struktur dan hempasan alam yang tak bersahabat atau shieldedmetal arc dan electrode ferritic yang tak bersahabat di kedalaman hingga hydrogen cracking yang dapat memicu ledakan.

Senyap adalah cerita dari orang-orang yang berjuang untuk hidupnya, mengais reheki halal dengan mengundi nyawa. Namun tak pernah ada sesal bagi mereka, dengan tugas yang terkadang orang lain tak pernah mengetahui. Dari sejumlah perairan ke perairan lainnya, dari dermaga ke dermaga lainnya, dari negara ke negara lainnya. Mengenal banyak rupa, karakter dan rasa takjub kepada Sang Maha Pencipta bahwa ada sisi lain dunia yang belum tentu semua orang menikmatinya. [Senyap Dan Keberuntungan]

Maka bersyukurlah, cintai apapun pekerjaanmu. Sebagaimana para senyap mencintai pekerjaan mereka. Bersyukur untuk hati dan pikiran yang tetap terjaga akan nikmat Tuhan. Dan Bersyukurlah, tatkala apa yang kau tuju belum tercapai maka bertanyalah pada dirimu,

“yang kupinta, apakah yang menurutku baik atau menurut Tuhan yang baik, yang kupinta, apakah kebutuhanku atau keinginanku? Sebab inginku adalah ingin manusia, tak terbatas. Sudahkah aku bersyukur?”.

Maka bersyukurlah, cintai apapun pekerjaanmu. Sebagaimana para senyap mencintai pekerjaan mereka.

Semoga para senyap lainnya akan memikirkan untaian atau penggalan tulisan seorang tuan kampret pada kolom kurang ajarnya; “Tuan, kau bagai senyap diwaktu terang ataupun gelap. Bagai senyap dikala hening maupun bising. Tersenyumlah pada hati, berharaplah tiada henti, mencintalah tanpa pamrih, dan sayangilah sesuatu tanpa pernah berkurang rasa sayang itu, berdoalah hingga bibir tersenyum pada kaku, bermimpilah hingga lelapnya menjadi candu, mengingatlah meski tak mencatat, lupakanlah meski sebuah luka, menangislah tapi jangan bersuara, tersenyumlah jangan mengeluh, bersujudlah sebagai pengingat harap”.

Senyap,

tak selesai.

Advertisements

Sekedar Catatan Perjalanan